Simplicity is not Simple

when a simple thing is not simple as its look

Menyikapi Idul Fitri Ganda

October 23rd, 2006 - Opinion - Give Comments

Kita semua tahu bahwa Idul Fitri kali ini terjadi 2 perbedaan dalam penentuan 1 Syawal 1427 H. Ini memang bukan yang pertama kali terjadi, tetapi masih banyak dari kita yang belum mengerti betul kenapa hal ini bisa terjadi.

Perbedaan adalah rahmat, tetapi kita harus mengetahui betul dasar dan hukum dari peristiwa ini. Tentu kita dilarang untuk sekedar ikut-ikutan tanpa tahu dasar hukumnya. Ingat, setiap perbuatan kita nantinya akan dimintai pertanggung jawaban, seperti yang tertera pada surat Al Israa’:36:

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

Saya akan mencoba memberikan sedikit pengetahuan saya tentang hal ini. Semoga setelah membaca postingan saya ini ke depannya kita bisa menyikapi dan memilih yang terbaik menurut kita.

Kenapa sampai bisa terjadi perbedaan dalam penentuan 1 Ramadhan dan 1 Syawal? Bukankah referensi umat Islam adalah sama? Bukankah obyek dari penentuan ini adalah sistem tata surya yang sama? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini mungkin sering kita alami.

Tentunya semua itu ada beberapa hal yang bisa menyebabkannya. Pertama adalah penggunaan dalil naqli yang digunakan serta penafsirannya. Dalil tersebut adalah Quran Surat Yunus ayat 5 yang berbunyi:

Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.

Ayat ini dipahami sebagai dasar bahwa dalam penentuan waktu berpuasa dan berhari raya haruslah dengan hisab atau perhitungan (ilmu astronomi). Ayat ini kemudian diperkuat dengan sebuah hadits Bukhari:

Janganlah kamu puasa sebelum melihat hilal (bulan) dan jangan kamu berbuka (berhari raya) sebelum kamu melihat hilal (lagi). Maka apabila bulan itu tertutup awan, fadquruu, maka hitunglah bulan itu.

Tetapi sebagian umat lainnya berpegang pada Surat Al Baqarah ayat 185:

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Ayat ini diperkuat dengan hadits dari Bukhari Muslim yang berbunyi:

Puasalah kamu setelah melihat bulan dan berbukalah (berhari raya) kamu setelah melihat bulan, fain ghubiya, kalau tertutup maka sempurnakanlah bilangan Syakban 30.

Selain dalil naqli di atas, perbedaan penentuan kriteria dan cara pandang terhadap hilal (bulan) juga menjadi faktor munculnya perbedaan ini.

Hilal yang dimaksud di sini ditafsirkan sebagai berikut:

  1. Posisi hilal masih berada di bawah ufuk. Dalam posisi ini, semua pihak sepakat bahwa dalam posisi seperti ini, Ramadhan disempurnakan menjadi 30 hari.
  2. Posisi hilal berada di atas ufuk dengan ketinggian kurang dari 2 derajat. Ada kelompok yang menganggap wujudul hilal ini dan menyatakan esok hari sudah masuk 1 Syawal.
  3. Posisi hilal mencapai minimal 2 derajat. Kelompok yang berpegang pada imkanur rukyat ini masih berpuasa karena hilal belum mencapai 2 derajat sehingga bulan digenapkan menjadi 30 hari.
  4. Posisi hilal harus terlihat. Kelompok yang berpegang pada rukyatul bil fi’li melakukan rukyat untuk menentukan apakah bulan berumur 29 atau 30 hari.

Karena perbedaan sudut pandang ini, dalam penentuan 1 Ramadhan dan Syawal seringkali dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu kelompok hisab dan kelompok rukyat.

Kelompok hisab menyatakan bahwa penentuan Ramadhan dan Syawal dapat menggunakan akal, yaitu dengan perhitungan astronomi alias hisab. Metode hisab ini digunakan pada masa tabiin atau generasi kedua setelah Nabi Muhammad SAW.

Kelompok rukyat menganggap jika bulan tertutup awan atau tidak terlihat maka mereka baru menggenapkan bulan menjadi 30 hari.

Perbedaan-perbedaan ini tentunya menimbulkan pertanyaan lanjutan di kalangan awam seperti saya. Manakah yang kita pegang dan kita ikuti?

Kalo menurut saya, sebenernya kita bisa menggunakan kedua metode hisab dan rukyat ini secara bersamaan. Kita bisa melakukan hisab dengan menghitung-hitung kira-kira tanggal berapa awal Ramadhan atau Syawal, tetapi kita harus membuktikan hasil perhitungan itu dengan melakukan rukyat.

Kalo ternyata hasil hisab tidak sesuai dengan rukyat, di mana seharusnya pada tanggal sekian seharusnya hilal sudah wujud tetapi ternyata hilal belum wujud, tentu harus disepakati mana yang akan digunakan apakah akan digenapkan 30 hari atau menggunakan hasil hisab sesuai dengan dasar yang telah disepakati.

Pemerintah dalam hal ini telah mewadahi dan menjembatani perbedaan-perbedaan penentuan ini dengan melakukan sidang isbat untuk menentukan awal Ramadhan dan Syawal. Dalam sidang ini berbagai kelompok Islam diundang untuk dimintai pendapatnya tentang penentuan Ramadhan dan Syawal ini sehingga bisa disepakati kapan berpuasa dan kapan berhari raya.

Tetapi walau sudah dimusyawarahkan dan disepakati, tetap saja ada kelompok atau organisasi yang merasa bahwa pendapatnya yang benar. Keputusan seperti inilah yang bisa menimbulkan kebingungan di masyarakat.

Tentu bukan bermaksud menyalahkan, tetapi masyarakat hendaknya mengetahui benar dasar dan hukum yang digunakan, dan tidak semata-mata hanya ikut-ikutan.

Bagi massa dari organisasi tersebut silakan saja melakukan keyakinannya dan bagi masyarakat di luar organisasi tersebut juga dipersilakan apakah hendak mengikuti keputusan salah satu organisasi tersebut atau keputusan bersama beberapa organisasi yang difasilitasi oleh pemerintah.

Apapun pilihannya, agama adalah hak paling asasi yang tidak boleh diganggu. Tak biijaksana rasanya bila kita saling mengolok-olok satu sama lain. Bagi yang merayakan hari raya hendaknya menghormati saudaranya yang masih berpuasa, begitu juga sebaliknya.

Selamat Idul Fitri 1427 Hijriyah. Semoga adanya perbedaan ini bisa menjadikan hari raya menjadi rahmat sehingga hari raya menjadi lebih semarak sehingga memperkokoh ukhuwah di antara kita.

Lalu saya sendiri memilih yang mana? Kalo saya sih ikut kesepakatan bersama saja. :)>-

20 Responses to Menyikapi Idul Fitri Ganda

  1. boku_baka says:

    Wah manteb2..
    Sekarang kalo ada yang tanya, saya sebutkan permalink tulisan ini saja. hehehe.. :p

    Sela mat Idul Fitri 1427 H
    Mohon Maaf Lahir Batin

  2. chocoluv says:

    pejah gesang, ndherek ngarso dalem
    sanajan tasih mbenjang, ngaturaken sungkem :P

  3. Tia says:

    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1427 H, Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Bathin yah

  4. mina says:

    jadi dirimu berhari raya selasa ya? menyerahkan tanggung jawab pada ulama dan umaroh hehehe…

    oya zam, katanya tu sidang isbat hari minggu kemaren, bukannya musyawarah, tapi malah voting ya?

  5. Sheilla says:

    Selamat hari raya Idul Fitri…

  6. Tina says:

    Bro.. Met lebaran yaak.. Maafin kalo aku ada salah2.. Mau kuenya dong.. heueheueheu..

  7. ariawn says:

    woo …. mantab!
    imho, itu ayat yang lo kasih kok menurut gw maksudnya sama ya??? (QS 2:185) .. sama-sama harus dilihat. nah, mengenai hadistnya … yang satu itu nyuruh di itung, yang satu di buletin…

    hem .. sejauh ini sih yang gw rasain dari perbedaan ini … rahmat .. soale buat yang mudik, jadi g bejubel. begitu juga distribusi zakat, salat Ied, dll … termasuk makan-makannya :P

    hem, oh iya setau gw juga … yang namanya itungan itu perlu di cocokin (kalo macam monitor, ato joistik buat maen gem) di kalibrasi … supaya cocok dengan kenyataan .. nah … kita juga g tau kan itu itungan yang dipake kapan terakhir di cocokin dengan kenyataan … (kalo dalam hal ini berarti penyocokannya dilakukan dengan melihat bulan.red)

    yah, itu lah opini gw :D

    btw, mohon maap lahir-batin juga :D

  8. nisa says:

    however .. “hai orang2 beriman.. taatLah kamu kepada ALLOH, RasuLuLLoH, dan pemimpin2 kamu” mksd dari pemimpin. adalah ya pemerintah bukan siy :D .. hehehehe..:)

  9. Jane says:

    HUee.. Daku gak ngerti gitu2an.. habis baca jurang ngerti juga.. hix hix.. anyway.. ini tuh masalah yang waktu itu sampe masuk koran and tv ituh yahh? yang katanya si Bulan kenapa gituuh.. aduh.. anyway.. juz do the best yang dipercaya ajah.. kan yang penting to whom we trust and how we see it, ya gak? :D

  10. nisya says:

    intinya mohon maaf banget lahir batinnya ya

  11. fragaria says:

    wah keren banget penjelasannya!! makasih ya… btw, kenapa ya kalo 1 muharam bisa sama semua?

  12. templank says:

    walluhual’lam bissowab…
    minal aidin walfa idzin

  13. Leo says:

    Say ngikut yg pertama..mau gimana lagi mayoritas di kampungku lebaran ala Muhammadyah (maksudnya penentuan harinya)

    Eh maaf lahir bathin ya Mas..
    dan maaf kalo di FF sering ada tulisan

    Problem loading page
    Server not found
    Firefox can’t find the server at metalgdrin.fluxide.c om.

    kalo lagi buka blog gw

  14. Prince PriyayiSae says:

    Allahu Akbar 2x
    La Ilaha Illalla Wallahu Akbar
    Allahu Akbar wa Lillahilhamdu

    Bila lidah terselip dusta
    bila sikap menoreh luka
    bila janji dan amanah terbatas lupa
    smoga pintu maaf tetap terbuka

    Mari kita sucikan hati
    Minal Aidin wal Faidzin
    Taqobbalalla hu minna wa minkum
    Selamat Idul Fitri 1427 H.

    ——-
    ulasanmu berat dab… mazhab zamroniah??

  15. thestoopid says:

    sebenarnya ga masalah mo ambil keputusan yg mana…

    yg mau ngikut Muhammadiyah juga silahkan
    yang mau ikut pemenrintah juga ga masalah.

    yg mau tetep ngikut pemerintah berarti konsekuensinya dia harus berpuasa pada saat muhammadiyah merayakan Ied mubarrak.

    karena bukan berarti puasanya bakal batal karena ada pihak yang sudah menetapkan 1 syawal pada hari itu. tetep diperlukan KONSISTEN.

    “kalo mo lebaran (baca:merayakan 1 syawal) rabo yaa selasanya harus tetep puasa!”

  16. bebek says:

    @ adi stoopid.. setoojooo… pokok men sesuai yangdiyakini wae…

  17. hendito says:

    hehehe … ini my opini … bisa disanggah silakeun

    syaban kemarin ditutup 30Hari, jadi ramadhan cukup 29hari
    mekkah, 1 syawal jatuh hari senin … kiblat kita ke mekkah yang terpaut cuman 5 jam kecuali kita di belahan benua amerika yang beda 1 hari … masak kita mesti beda dengan kiblat mekkah? wallohu alam .. sebenere masalah penentuan 1 syawal harus sudah dilakukan saat penentuan 1 Muharram …. soale pas hari rabu 24 Oktober 2006, bulannya dah cukup gedhe (adakah yang mengamati? soale aku liat sendiri) … sehingga di jatim mengakibatkan PW NU Jatim, memberikan nota dinas mendadak untuk 1 syawal jatuh pada hari senin dan berbeda pendapat dengan PB NU … aku jadi bingung malam senin kemarin, soale ada yang takbir dan ada yang imsyak …

    jadi terserah mo ikut yang mana … tapi ingat bulan kita cuman 1, jadi mo diliat darimanapun tetep sama …. tak perlu saling ngontot … yang pake rukyat maupun hisab sama-sama punya dalil …

    ketupat kecemplung santen
    sedoyo lepat kulo nyuwun pangapunten

  18. matriphe says:

    #hendito:
    terima kasih masukannya. kalo menurut saya, kalo kita di Mekah, kita bisa berpatokan pada Mekah. la soalnya kita kan di Indonesia, maka kita ikuti aja sesuai tempat di mana kita berada, yaitu Indonesia. seperti pada Al Baqarah 185 di atas, kalo dia hadir di suatu tempat di mana masih Ramadhan, maka dia wajib berpuasa, dst..

    soal hilal. memang saya juga mendengar kabar kalo pada hari Minggu (22/10) kemarin, di Madura, hampir semua titik dapat melihat hilal yang dimaksud. akan tetapi waktunya cukup larut, sehingga ketika informasi ini disampaikan ke pusat, sidang isbat sudah menjatuhkan ketetapannya. apalagi, sebagian besar menyatakan tidak melihat hilal.

    peristiwa ini memang unik. di Masjid Agung Ampel Surabaya saja, sehabis terawih, sekitar pukul 11 malam malah mengumandangkan takbir. uniknya lagi, meskipun Muhammadiyah menentukan Lebaran tanggal 23, tetapi ada sebagian organisasi yg biasanya sependapat dengan Muhammadiyah semacam Al Irsyad, Persis, PKS, ikut pemerintah. tetapi organisasi NU yg kerap berseberangan dengan Muhammadiyah bisa kompak berlebaran pada tanggl 23 di hampir seluruh Jawa Timur.

    membingungka n memang. tetapi selama kita yakin akan suatu pegangan dan mengetahui dasarnya, insya Allah semua tak menjadi masalah.. :)

  19. aad says:

    nek aku milih seng luwih cepet….

  20. hendito says:

    peran pemerintah sebagai ulil amri ga jelas dan ga tegas seh … tapi ingat skali lage .. yang boleh ngrayain lebaran hanya yang bener-bener beribadah pas ramadhan .. kemenangan buat semua yang emang beribadah di setiap ramadhan … qta mesti selalu instrospeksi