Simplicity is not Simple

when a simple thing is not simple as its look

Bos LOENPIA datang? Sabar sampai bubar!

October 14th, 2006 - Event - Give Comments

Hari Selasa malem (10/10) Pak Bos LOENPIA.net mengabarkan bahwa beliau berada di Jogja karena ada suatu keperluan yang menyangkut kehidupannya. Halah. Sebuah kabar yang mengezutken karena kita kedatangan tamu “agung” karena ukuran fisik tamu kita yang “mengagumkan”.. Hehe.. Piss, bro! :)>-

Malam-malam saya dapet sms dari sebuah nomer IM3. Tak kirain ada gadis muda™ yang tersesat menghubungi saya karena lagi RBL™, halah! Woo.. Ternyata sms dari Pak Bos yang mengabarkan kehadirannya di Jogja dan sedang menginap di salah satu penginapan di daerah Sarkem Jl. Kaliurang.

Sebagai tuan rumah, tak enak hati rasanya kalo ndak menyambutnya. Wacana untuk kopdar pun digulirkan, tetapi berhubung Pak Bos waktunya ndak banyak untuk trek-jing-trek-jing di Jogja, maklum wong penting je, untuk sementara cukup saya dan Dipto saja yang menyambut. Jadi nuwun sewu lo Pak Bos, kalo sambutannya kurang berkenan.

SABAR - Sahur Bareng

Karena saya dan Dipto ini termasuk makhluk nocturnal, jadinya sambutan yang kami lakukan ya ndak jauh-jauh dari waktu malam. Apalagi suasana Jogja sangat eksotis menurut saya di waktu malam. Dingin dan sepi memberikan nuansa tersendiri ketika menikmati kehidupan malam Jogja. Halah.

Kopdar tu ndak bisa lepas dari yang namanya makan-makan™. La mosok kopdaran kita cuma ngobrol-ngobrol sampe ngelangut? Ha ya ndak lucu. Nah, kalo biasanya acara kopdar itu dilakukan pada saat berbuka, kini kita menawarkan kegiatan yang beda yakni sahur bareng. Mungkin kegiatan sahur bareng ini bisa menjadi alternatif buat temen-temen yang bosan dan jenuh dengan acara bukber setiap hari.

Cukup ndobose. Kali ini lokasi kuliner kami adalah sebuah warung gudeg lesehan yang terletak di jalan Solo, tepatnya di depan Saphire Square dan di samping Cafe Soda Lounge. Nama warung ini adalah warung gudeg Batas Kota.

Gudeg di warung ini sedikit berbeda dibandingkan gudeg-gudeg lain yang pernah saya coba. Kalo biasanya gudeg di Jogja ini terkenal manis, gudeg Batas Kota ini lebih mengarah ke rasa gurih. Jadi buat mereka yang ndak begitu suka dengan masakan manis, gudeg ini bisa dijadikan pilihan.

Mohon maaf buat yang penasaran dengan gudeg ini, karena tidak adanya skrinsut dari gudeg yang dimaksud. Biarlah semboyan “tanpa skrinsut adalah basbang™” menimpa postingan ini, la karena pada saat kejadian foto-fotonya ada di kameranya Pak Bos. Jadi kalo penasaran silaken kunjungi blognya Pak Bos kalo beliau mempostingkannya atau datang saja langsung ke warung Batas Kota tersebut. :D Sebagai informasi, warung ini mulai buka sekitar jam 10 malam.

BUBAR - Buka Bareng

Keesokan harinya Kamis (12/10), si Monik nge-sms saya. Dia ini penasaran dan pengen ketemu sama Pak Bos. Halah. Akhirnya dengan dadakan, rencana kopdaran lagi pun disusun. Kali ini acaranya adalah buka bareng. Kebetulan si Monik ini ada acara buka bareng sama temen-temennya, terus ngajak ketemuan abis bukber tersebut. Jadi mohon maap buat temen-temen Andong kalo ndak sempet ngontak dan ngajakin kopdar. Soale asli acarane mendadak banget, je.

La jangankan ngumpul. Saya aja malah buka di Masjid Besar Kauman barengan sama Kailani. Si Monik malah lagi di acara buka bareng sama temen-temennya. La terus Pak Bos? Pak Bos barengan sama anak buahnya. Sebenernya si Dipto udah dikontak juga, tapi karena dia lagi njebabah ngaplah-ngaplah, dengan terpaksa ndak bisa ikut.

Karena saya ndak bisa mikir cepat dan benar kalo pas lagi lapar, serta pertimbangan waktu dan jarak, dan juga ada informasi kalo Pak Bos ini mau nggaya™ dulu mo jalan-jalan ke Malioboro, akhirnya diputuskan untuk ketemuan di Malioboro Mall selepas maghrib. Lah? Bukan buka bareng donk namanya? Hehehe.

Ya sudah, setelah ketemuan dan berdebat tentang lokasi makan yang mantab, akhirnya diputuskan untuk nyari warung lesehan di kawasan Malioboro ini. Sebenernya saya dan Monik kurang sreg makan di warung lesehan di Malioboro. Alesannya sederhana, kalo ndak berhat-hati bisa-bisa tragedi™ bisa terulang kembali. =))

Kiri-Kanan: Kailani, Saya, Monik, Budiyono

Makanya kalo temen-temen mo makan di warung lesehan di Malioboro pastikan warung tersebut menyediakan daftar menu beserta harganya. Ini untuk menghindari tragedi™ dikepruk alias ditarik bayaran mahal yang ndak sesuai sama harga sebenernya sama penjualnya. Padahal harga makanan di sini lebih mahal daripada harga makanan standar Jogja terutama untuk kantong mahasiswa. Maklum, lokasi menentukan prestasi.

Kebetulan pas berada di lesehan ini, seorang musisi jalanan pun mulai beraksi yang menyanyikan lagu Yogyakarta, yang dipopulerkan oleh KLA Project itu. Weh.. Terhanyut aku akan nostalgi, saat kita sering luangkan waktu, nikmati bersama suasana Jogja.. \:d/

Setelah makan, Pak Bos dan rekan-rekan kebetulan mau nyari dasi buat presentasi besok paginya. Bukan, bukan presentasi MLM, emangya tampang Pak Bos mirip sales MLM? :)) Ya sudah, akhirnya kita jalan-jalan menelusuri Malioboro sambil menemani Pak Bos nyari dasi.

Saya pun mulai mengingat-ingat kapan terakhir kali berjalan-jalan menelusuri lorong-lorong sempit Malioboro dan seringkali harus berdesak-desakan menembus lautan manusia yang berlalu-lalang di lorong ini. Ah.. Sudah cukup lama saya ndak melakukan hal itu.

Menelusuri lorong Malioboro

Pak Bos pun menunaikan hajatnya, berbelanja beli dasi di salah satu pusat perbelanjaan yang banyak tersebar di sini. Ada tips yang berguna bagi temen-temen yang mungkin akan berbelanja di Malioboro, terutama pada pedagang kaki lima. Tawarlah harga barang yang ditawarkan minimal sepertiganya. Karena para pedagang di sini seringkali menaikkan harga hingga 3 kali lipatnya. Karena saya kurang pintar dalam urusan tawar-menawar, saya ndak pernah beli sesuatu di sini. :D

Tapi jangan sekali-kali menerapkan tips ini pada pedagang yang ada di dalam pasar Beringharjo, kalo ndak ingin dipisuhi dan dimaki para pedagang di situ. Tawarlah barang sewajarnya dan jangan lupa untuk selalu jeli dan teliti dalam memilih barang yang akan dibeli.

Setelah itu, kami pun mulai menelusuri kembali Malioboro hingga mencapai ujung selatan. Tepatnya di sebuah tempat eksotis yaitu sebuah taman yang selalu ramai oleh orang yang melakukan bermacam aktivitas. Inilah salah satu ruang publik yang masih tersisa di Jogja.

Suasana Malioboro di malam hari

Taman ini diapit oleh Istana Negara di sebelah barat yang dulu dipakai ketika ibukota RI pindah ke Jogja dan juga Benteng Vredeburg sisa peninggalan Belanda di sebelah timur. Tentunya kita harus melewati Pasar Beringharjo yang terkenal itu sebelum sampai di taman ini.

Pasar Beringharjo

Istana Negara

Di sini pula kita bisa melihat berbagai bangunan bersejarah nan eksotis yang masih berdiri megah, antara lain Gedung Bank Indonesia yang arsitekturnya unik serta Monumen Peringatan Serangan Umum 1 Maret 1949. Bila kita terus berjalan ke selatan, kita akan sampai di Kraton Yogyakarta!

Lalu apa yang kami lakukan di sini? Tentu saja kegiatan utama blogger ketika kopdar, yaitu foto-foto! >:)

Narsis di depan Istana Negara

Narsis di depan Benteng Vredeburg

Puas berfoto-foto, akhirnya kami pun berencana untuk pulang. Kami pun kembali menyusuri lorong Malioboro sisi timur menuju ke tempat kami semula bertemu, Malioboro Mall. Dalam perjalanan ini, saya menemukan penjual panganan yang sudah lama ndak saya temui, yaitu Gethuk Lindri dan juga Klepon.

Gethuk Lindri dan Klepon

Gethuk Lindri ini terbuat dari ubi (Ipomoea batatas poir) yang kalo orang Jawa bilang telo. Ubi ini direbus kemudian dihaluskan dengan digiling dan dicampurkan gula dan pewarna makanan kemudian dipadatkan. Untuk pelengkap, ditaburi parutan kelapa diatasnya untuk menambah rasa gurih.

Sedangkan Klepon terbuat dari adonan ketan yang dibentuk bulat-bulat dan berisi gula merah. Kemudian bulatan-bulatan berwarna hijau ini dibaluri dengan parutan kelapa untuk memberikan rasa gurih. Ketika digigit, bulatan ini akan pecah dan mengeluarkan air gula merah yang akan memberikan sensasi tersendiri ketika meleleh di mulut.

Ada lagi panganan yang bernama Cenil. Sama seperti Klepon, Cenil terbuat dari tepung ketan tetapi Cenil ini berbentuk seperti Cendol berukuran gedhe. Cenil ini rasanya tawar, sehingga harus dibalur parutan kelapa supaya memiliki rasa gurih.

Gethuk ini dihargai 250 rupiah per potong sedangkan Klepon dihargai 150 rupiah per butir. Karena saya ndak begitu suka Cenil, saya cuma beli Klepon sama Gethuk. Saya beli 5.000 rupiah campuran antara Gethuk dan Klepon. Lumayan buat mengganjal perut sambil beristirahat setelah lelah berjalan menyusuri Malioboro.

Beristirahat sambil menikmati Gethuk dan Klepon

Hari semakin larut, dan akhirnya perjalanan kami malam itu harus diakhiri. Kami pun berpisah dan berpamitan karena Pak Bos dan rombongan akan kembali ke Semarang Jumat (13/10), sehingga malam itu merupakan malam terakhir kami bisa ketemu Pak Bos di Jogja.

Sebenernya kalo ada waktu, Pak Bos dan rombongan ini mo kita bawa mengunjungi tempat-tempat ngesoul™ lainnya di Jogja. Mulai dari menikmati teh poci di pinggiran Kali Code, menu super big Tosari, menikmati Sate Karang dan juga Sate Klathak, dan masih banyak lagi. Cuma sayang karena keterbatasan waktu, mungkin baru itu dulu yang bisa kami suguhkan.

Mungkin lain kali kalo Pak Bos atau temen-temen lain yang pengen datang ke Jogja, monggo, ndak perlu sungkan-sungkan. Dengan senang hati kami akan menyambut kedatangan temen-temen.

Oiya, dari cerita Pak Bos, beliau sempet juga mampir ke warung fakyu™ yang pernah saya ceritakan sebelumnya. :)) Hahaha. Kalo mampir ke situ dan belum mesen Gurame Asem Tenan Sing Dodol™, belum ngesoul™, Pak Bos.. =))

13 Responses to Bos LOENPIA datang? Sabar sampai bubar!

  1. chocoluv says:

    ih,,, entuk pete aku :D
    wekekekkeke… no komen deh :P

  2. templank says:

    wah … dadakan ya… jadi inget markopolo serba dadakan…
    lah gue juga dpt pete™

  3. boku_baka says:

    cekakakak… cekakakak…
    asem ya Zam!
    ini ada aib yang gak disebut ki..
    Zamron ternyata fetish sama mbakyu penjual sate.. ndi fotone kang?

    huehehehhe…

  4. Tyo says:

    Klepon !

  5. Leo says:

    08124170399

  6. tukang nggedeblues says:

    wwwwweeeeeeeee……..lha, bar kopdar maning to !!! zam, yen mulih solo pas dino setu, kasih kabar. kita wisata kuliner di solo …. hehehehehehehe. tapi dilarang minta sate jamu

  7. say says:

    sore aku dikabari tapi bengine ra dikonter, hiks… hiks… akhire ra diajak. wis saiki ming iso memandangi getuk ro klepone. sambi ngeces². sungguh teganya dirimu *backshound lagune megi Z*

  8. wedhouz® says:

    weleh…
    kaose angkringan wis dirèyen karo monik

  9. Fany says:

    Eh eh, aku bulan depan maen ke jogja loeh..

    *berusaha agar disambut juga*

    Eh dapet buncis… :-s

  10. Sheilla says:

    Kalo gitu klo bsok ke Jogja tinggal panggil Zam biar jadi guide.

  11. matriphe says:

    sumonggo kalo temen-temen mau datang ke Jogja..

    #Fany: silakan kontak mas Budi untuk nomer saya >:)

    #Leo: Catet..

  12. bagonk says:

    … dadi pengen mangan gudeg… :(

  13. Yogie says:

    Waa…
    jadi ada penyambutan gitu ya?
    hmm….
    baiklah. ..
    *nyapin tas ransel nggo mudik*