Simplicity is not Simple

when a simple thing is not simple as its look

Wanita dan 2 Anak Kecil di Tirtonadi

August 22nd, 2006 - Opinion, Personal - Give Comments

Wanita itu berumur kurang lebih 20-30 tahun. Berkaus oblong kumal sambil menggandeng 2 anak kecil laki perempuan berumur kira-kira 10 tahun. Ketika berdiri di depan kami, si wanita tak segan-segan menengadahkan tangannya kepada kami. Dengan sedikit kaget, saya pun melambaikan tangan menolak dengan halus. Wanita itu kemudian pergi dengan muka yang agak kecut.

Itu pengalaman tadi pagi yang saya alami ketika mengantarkan bude dan mbakyu sepupu saya kembali ke Surabaya, di Terminal Tirtonadi yang pernah dinyanyikan sama Didi Kempot itu. Sebuah pemandangan yang mengusik saya.

Saya pun memperhatikan wanita itu. Seperti ketika di depan kami, wanita itu tanpa segan menengadahkan tangan kepada para calon penumpang lain. Dan reaksi mereka sama, ada yang menggeleng, bahkan cuek tap bergeming. Tidak ada yang memberikan sepeser uang pun kepada wanita itu.

Saya, dan mungkin para calon penumpang lain yang diatungi tangan itu pasti berfikir, wong badan masih muda, sehat, dan seger buger gitu kok ngemis. Wanita itu kalo mau, bisa saja bekerja dan ndak ngemis kayak gitu. Jadi penjual asongan, tukang cuci, buruh pabrik, pembantu rumah tangga, atau kerjaan halal lainnya.

Kedua anak yang dia gandeng itu, entah anaknya atau anak sewaan, cuek saja. Tingkahnya yang polos itu tak peduli dengan apa yang dilakukan wanita itu. Walau digandeng ke sana kemari, si anak berlagak selayaknya anak seusianya. Tangan menyentuh apa saja, mata melihat ke sana kemari, dan mulutnya meracau tak jelas karena suaranya tertelan deru mesin bis.

Tak lama kemudian bis yang ditunggu pun datang. Seketika perhatian saya teralihkan ke bis yang datang. Dengan sigap saya masuk ke dalam bis untuk mencari tempat duduk buat bude dan mbakyu saya yang nggendong keponakan saya itu. La wong bawa anak kecil, je. Jadi milih bis patas. Kasian keponakan saya kalo naik bis biasa.

Saat saya turun dari bis, saya ndak melihat sosok wanita itu lagi. Saya pun tak peduli lagi karena perhatian tertuju kepada bis yang masih menunggu penumpang itu. Saya menunggu sampai bis itu berangkat, baru saya pulang.

Ketika pulang, saya melihat wanita itu lagi. Kali ini suasananya beda. Mereka bertiga berada di depan sebuah warung kelontong yang berada di pelataran terminal. Kedua anak kecil itu memandang makanan kecil yang dipajang di dalam etalase. Mukanya mupeng banget, mungkin karena lapar dan kepingin.

Saya perhatikan kembali wanita itu, dan berharap wanita itu mengeluarkan uang untuk membelikan apa yang diinginkan anak kecil itu. Ternyata tidak. Wanita itu menarik kedua anak kecil itu menjauh dari etalase dan kemudian mendudukkannya agak jauh dari warung itu. Si anak tampaknya mulai menangis. Si wanita sedikit bingung dan mulai berbicara kepada anak-anak itu, mungkin memberikan pengertian bahwa dia tak memiliki uang.

Sambil lalu saya terus memperhatikan wanita itu. Pemandangan itu yang terakhir saya lihat. Hati ini mulai berontak, ah kenapa saya ndak memberikan uang saja barang seribu-dua ribu biar bisa dibelikan makanan kecil itu. Eits, tapi tunggu dulu. Iya kalo dibelikan makanan, la kalo masuk ke kantong wanita itu gimana? Belum lagi itu cuma mendidik sifat malas saja. Mendidik jadi pengemis, protes sisi akal saya.

La kalo liat ekspresi anak kecil itu saya ndak tega, je. Namanya juga anak kecil. Mana mau tau dia kalo ndak punya duit. Yang dipengeni ya sesegera mungkin kudu dituruti. Saya semakin bimbang. Batin ini terus berkecamuk.

Tapi apa boleh buat, pintu keluar sudah di depan mata. Lagian ibu saya juga sudah memanggil saya yang tertegun. Lamunan saya buyar, saya menengok kembali ke tempat wanita itu berada. Sudah tidak ada. Mungkin si wanita mengajak anak kecil itu pergi untuk mengalihkan perhatiannya.

Akhirnya saya mengurungkan niat untuk kembali dan memberikan duit itu. Semoga saja rezekinya dilapangkan, doa saya dalam hati kepada wanita dengan 2 anak kecil itu.

Kenapa? Kenapa anak kecil yang selalu jadi korban? Selalu mereka, yang katanya jadi tunas-tunas harapan bangsa? Saya kemudian teringat kepada keponakan saya tadi. Alhamdulillah dia masih bisa menikmati susu dan makanan bergizi. Bagaimana dengan anak-anak dari keluarga miskin, yang cuma minum air tajin, itu pun kalo mereka masak beras.

Sebuah dilema menurut saya. Ketika melihat bendera yang berkibar di terminal itu saya kembali berpikir. Rakyat di negeri ini masih banyak yang belum merdeka. Sementara yang di atas itu, ah.. Saya ndak mau ngrasani. Selain dosa, nanti malah bikin saya tambah emosi saja.

Dirgahayu negeriku. Rakyatmu masih belum merdeka!

15 Responses to Wanita dan 2 Anak Kecil di Tirtonadi

  1. paman tyo says:

    memperalat anak adalah jalan pintas yang menggoda. termasuk di dalamnya adalah memproyeksikan kepentingan terhadap anak, atas nama obsesi maupun — apa yang diyakini sebagai — cita2 luhur…

  2. Sheilla says:

    Hmmm… kasian ya mereka gak bisa makan enak… Saya belajar dari sahabat saya, waktu kami lagi makan di warung tenda terus ada anak kecil minta2. Sahabat saya langsung minta mangkok isi nasi ke tukang jualannya, dan nyisihin sedikit lauk dari piring kami bedua dan langsung dikasih ke anak itu. Anaknya seneng banget loh.

    Good conclusion, rite? Hehe.

  3. Mbilung says:

    Tajin … kata ibu saya, itu dulu yang diberikan ke saya.
    Anak, masih saja bisa bikin iba yang lantas secara “merdeka” dimanfaatkan.

  4. boku_baka says:

    berbagi pengalaman….
    beberapa waktu yang lalu (lumayan lama) saya sekeluarga makan2 di lesehan simpang lima. beberapa anak kecil meminta, namun walaupun sudah dikasih ala kadarnya mereka tetap nungguin kami makan, bahkan jumlahnya bertambah jadi 4-5 anak..
    karena gak enak, kami cepetin makannya, dan beranjak dari situ. dan… anak2 yang tadi langsung menyerbu sisa2 makan kami.
    Duh gusti.. negeri ini sudah merdeka memang, tapi kapan bisa lepas dari penderitaan…

  5. deep_track says:

    susah membedakan mana yang miskin dan “miskin”. duh Gusti mugi paring rizki ingkang kathah

  6. bebek says:

    perasaan kok njenengan jodoh bangeeed to karo ibu2 dan 2 anaknya itu… kok bola bali ketemu wae…. inikah namanya cinta… oh inikah cintahh.. :D (halah..)
    btw bener kang elzan, opo ra kurang dowo kode anti spammer’e kuwi?

  7. Tina says:

    Iyaaaa.. jangan2 ini cinta? hueheueheu *lari ah*

  8. Nisa says:

    Huhuhuhuhu… serba salah ya. Gimana kalau waktu itu culik dulu anak-anaknya dah gitu langsung kasih makan ke anaknya. hehee. kalau dah selesai baru balikin lagi ke ibunya. Hehehehe.. *kabur sebelum dikasih clurit. :))

  9. tomatgondol says:

    kalo ane, sebenernya ane kalo ada yang minta gitu and anenya ada uang, yaa ane kasih. malah, kemana2 bawa uang receh. niatnya emang buat beramal. buat siapa aja. karena bisanya ya cuma beramal yang begituan. belum bisa berbuat lebih. emang sich bisa jadi uang receh kita disalahgunakan. tapi, bisa jadi juga khan uang receh kita benar2 dibutuhkan? lagian, masalah penyalahgunaan sich, itu bukan urusan kita lagi. emang kalo disalahgunain kita trus mau menarik lagi uang kita yang udah dikasih? hmm… itu pendapat ane bro! boleh sepakat, gak boleh gak sepakat! hehehe.

  10. rendy says:

    jangan ngasi buat mereka… lebih baik ngasih ke masjid/tempat beribadah

  11. Leo says:

    Darah dan nyawa harus menjadi tumbal untuk kibarkan merah putih. 61 tahun setelah berkibar, darah masih mengalir dengan derasnya. Mengapa ?

  12. bagonk says:

    hmm… susah juga…
    dulu saya sering merasa kasihan kepada peminta-minta karena saya pikir mereka terpaksa meminta-minta untuk sekedar mencukupi kebutuhan dasar makan/minum mereka untuk hari itu.
    namun dengan seringnya saya melihat mereka di tempat yang sama tiap hari… saya jadi berpikir… ini bukan terpaksa, tapi sudah jadi hobi… bahkan sepertinya terorganisir… :(
    sejak itu saya mulai membatasi diri kalau hendak memberi mereka uang…
    salahkah saya? au ah… saya juga bingung…

  13. Tina says:

    Sammmmm, hehe, cuma mau panggil aja.. Aku lagi bengong, ga ada kerjaan, so bacain blog2 orang deh.. hehe..

  14. eRween says:

    Humm di Brawijaya banyak fenomena pengemis kecil…waktu aku dapet kesempatan berbincang dengan beberapa pengemis….aku sedikit brainwashing motivasi mereka…sekarang beberapa pengemis kecil itu agak hormat setiap ketemu ma aku karena mereka sungkan. seperti peribahasa Tak Kenal Maka Tak sayang…so….sering-sering kenalan ma pengemis maka mereka akan sungkan kalo minta ma kita…..makin banyak pengemis..maka semakin sungkan mereka dan nantinya….kalo kita semua kenal…insya Allah yang namanya pengemis semakin berkurang…..MASIH MENDING JADI PEMULUNG DARIPADA PENGEMIS…..ya kan…btw ADA PEMULUNG YANG ANAKNYA DSEKOLAHKAN KE FAKULTAS KEDOKTERAN LHO dari hasil MULUNG….luarr biasa….

  15. Tyo says:

    Melu trenyuh moco tulisanmu.
    (kudanil)