Tuhan Sembilan Senti
June 23rd, 2006 - Words - Give CommentsNggak sengaja nemu ini pas blogwalking. Sebuah puisi karya Taufiq Ismail, dengan judul sama.
Saya mengutip ini untuk perenungan bagi kita semua. Oya, saya ngambil puisi ini dari Tausiyah275. Sebuah referensi bagus dan mantab buat yang sedang mencari “pencerahan” kayak saya ini ![]()
Berikut isi “renungan” tersebut.
Tuhan Sembilan Senti
Oleh Taufiq IsmailIndonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,
Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok, di kantor pegawai merokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPR merokok, di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara-perwira nongkrong merokok, di perkebunan pemetik buah kopi merokok, di perahu nelayan penjaring ikan merokok, di pabrik petasan pemilik modalnya merokok, di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok, di ruang kepala sekolah ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok, di ruang kuliah dosen merokok, di rapat POMG orang tua murid merokok, di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,
Di angkot Kijang penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok, di loket penjualan karcis orang merokok, di kereta api penuh sesak orang festival merokok, di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok, di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,
Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,
Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di restoran di toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung merokok,
Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan abab rokok, bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,
Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,
Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena,
Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, di apotik yang antri obat merokok, di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok, di ruang tunggu dokter pasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok,
Istirahat main tenis orang merokok, di pinggir lapangan voli orang merokok, menyandang raket badminton orang merokok, pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok, panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,
Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok, di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok, di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa. Mereka ulama ahli hisap. Haasaba, yuhaasibu, hisaaban. Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok. Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, ke mana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,
Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri. Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu. Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz. Kyai, ini ruangan ber-AC penuh. Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i. Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok. Laa taqtuluu anfusakum.
Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan. 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?
Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith. Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka. Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk,
Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba,
Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya,
Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,
Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.
Hate smokers.. ![]()
June 24th, 2006 at 00:58:52 from using Mozilla Firefox 1.5.0.4 on Windows XP
untung aku anti dengan ” tuhan yang satu ini™ ” … alhamdulILLAH…
June 24th, 2006 at 07:13:33 from using Opera 9.00 on Windows XP
saya hidup dengan para perokok yang kebal-kebul setiap hari
saya menjadi terbiasa walaupun tidak ikut menikmati
sekarang saya menghindar bila asap keparat itu terlintas
rasanya apek dan kurang menyenangkan di hidung
June 24th, 2006 at 11:20:07 from using Opera 8.52 on Linux
emang rokok nikmat yak
asep dimakan
mending es cendol, ato nasi pecel
June 24th, 2006 at 11:59:05 from using Internet Explorer 6.0 on Windows XP
seandaina smua perokok bs membaca tulisan ini..
huhu akyu anti asap rokok
June 24th, 2006 at 14:46:22 from using Mozilla Firefox 0.9 on Windows XP
itu puisi ya? bukan prosa?
tentang rokok, kayanya mo pake renungan apa juga bebal deh… papah saya aja udah apal kayaknya 4000 zat beracun dalam rokok (tiap hari diceramahin, diomelin, dikasi tau)… tapi tetep aja ngerokok…
June 26th, 2006 at 10:49:43 from using Mozilla Firefox 1.5 on Windows 98
kayanya fokusnya bukan cuma indonesia aja deh. semua sudut dunia juga punya penyakit yg sama…
aku sbenarnya juga ga anti rokok
tapi kalo ada orang rokok deketku, aku jadi pusing sendiri
bawaan lair kali
hidungku terlalu sensitip
June 26th, 2006 at 11:07:23 from using Mozilla Firefox 1.5.0.4 on Windows XP
orang yg dekat dengan ku dilarang merokok ! Klo pun ngerokok silahkeun asal asepnya gak kehirup diriku .
June 26th, 2006 at 13:01:07 from using Mozilla Firefox 1.5 on Ubuntu Linux
woi! p kabar!
g bisa kerja nih! doh…
gw baru “turun gunung” nih …
eh iya, sehubungan dengan post ini.. jadi inget, dulu pernah ada orang yang ngerokok di angkot, mereknya itu kalo g salah 2-3-4 tapi g tau edisi apa…yang jelas .. asepnya ampe bikin gw pusing! doh!
yaah…kasian para perokok pasif .. apalagi yang berpenyakit paru-paru(macam asma) .. dah di “beri” asep bekas … resikonya kena penyakit lebih gede pula.. ckckck… sayang orang yang ngerokok suka kurang mikirin orang laen …
June 26th, 2006 at 13:56:09 from using Mozilla Firefox 1.5.0.1 on Windows XP
gw dulu pernah nyoba ngrokok… BATUK-BATUK.. untunglah, sampe sekrang gak pernah coba2 lg, dan jangan sampe.
June 26th, 2006 at 16:13:44 from using Mozilla Firefox 1.5 on Windows 98
wah, merokok itu enak pak dhe. ada sensasi tersendiri. tapi lebih enak lagi dirokok. wuih nak nan. wakakaka….k nek sing iki mau hobine kang zam.hehehe… dengan rokok berapa mulut yang dapat diberi makan, denhgan rokok berapa cukai yang diterima negara. hehehe… everything have two side. halah
June 27th, 2006 at 14:07:59 from using Mozilla Firefox 1.5.0.4 on Windows XP
hehehe,,, kalo aku si bukan perokok,,, tapi juga ga anti ma orang ngrokok,,, asal bukan anak kecil aja yang ngrokok… kalo orang dewasa, harusnya mereka dah ngerti sendiri kan bahwa merokok tu bisa membunuh diri sendiri dan orang lain? kalo mereka tetep ngrokok,,, ya berarti dah siap nanggung dosa masing2…
July 4th, 2006 at 03:07:50 from using Mozilla Firefox 1.5 on SuSE Linux
di semua tempat rokok ada, di lab elins ada, di kelas ada, mungkin cuma di sic yang ga ada krn mbaknya bisa ngam00k kalo ada yang ngerokok. berhubung aku minoritas diantara para perokok mending meneng wae lah
July 5th, 2006 at 11:32:29 from using Internet Explorer 6.0 on Windows XP
harusnya itu asap rokoknya ditelen sisan. jadi gak ganggu yg lain
July 11th, 2006 at 15:48:59 from using Camino 1.0b2 on Mac OS X
rewel amat..
rokok itu gak jauh beda dengan cemilan ataupun duren..
bagi yang suka duren, rasanya nikmat sekali. tapi bagi yang gak demen, duh! benci sekali..
petani berumur 65 tahun, merokok, masih kuat nyangkuli sawah.
konglomerat, berumur 45 tahun, tidak merokok, udah guling2 kena darah tinggi.
Sejauh ini gue belom pernah denger ataupun lihat orang2 deket gue mati karena rokok. Tapi mati karena serangan jantung, stroke, hipertensi, diabetes, etc. udah lumrah. Dan kebanyakan dari mereka adalah orang yang tidak merokok.
Kalo mau awet hidup, ya minumlah air putih steril, nasi steril, lauk pauk yg udah lolos uji lab, pake selop tangan, topeng gas, gendong dan hirup tabung oksigen. Sebab percuma aja kagak ngerokok, tapi saban hari ngirup asep solar.
enjoy aja..
mari kita dekatkan diri pada alam dengan menyedot hasil alam kita tercinta (tembakau)
September 29th, 2006 at 16:50:59 from using Mozilla Firefox 1.5.0.7 on Windows XP
asap campur abab .. alhamdulillah keluargaku dan aku bukanlah perokok .. amiin