Jogja, that day
May 30th, 2006 - Personal - Give CommentsApabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?”, pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya.
Q.S. Al Zalzalah 1-5
Belum usai bencana Merapi di utara Jogja, giliran selatan mengalami musibah. Sebuah gempa tektonik berkekuatan 5,9 Skala Richter mampu memporakporandakan serta melumpuhkan Jogja, Jawa Tengah, dan sekitarnya.
Jogja hancur. Klaten hancur. Bantul hancur. Indonesia kembali menangis. Suasana begitu mencekam. Tangis dan jerit terdengar di penjuru kota. Kepanikan merebak. Komunikasi putus. Lalu lintas kacau. Listrik mati. Jogja lumpuh.
Berikut pengalaman saya saat gempa di Jogja terjadi.
Saat gempa terjadi, saya masih di rumah, di Solo. Saat itu saya hendak berangkat ke kampus, menunaikan tugas. Saya mengira gempa yang terjadi merupakan gempa akibat aktivitas Merapi. Tak ada informasi karena ketika gempa, listrik langsung padam sehingga saya tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Saya berangkat dengan perasaan biasa saja. Perasaan saya berubah ketika memasuki Klaten. Bangunan banyak yang roboh. Bahkan ketika melewati RS Soeradji Tirtonegoro Klaten, sempat terjadi kemacetan. Banyak pick-up mengangkut korban-korban yang luka. Saya masih berpikiran bahwa Merapi meletus dan para korban tersebut merupakan korban Merapi.
Saya semakin terkejut dan pedih hati ketika memasuki Prambanan. Sepanjang jalan yang terlihat hanya rumah roboh. Bahkan ketika melewati kawasan Candi Prambanan, gapura perbatasan hancur. Saya bahkan sempat menangis ketika melihat kondisi ini. Pikiran saya mulai kacau. Apakah yang sebenarnya terjadi?
Ketika memasuki Jogja, perasaan saya mulai tidak enak. Situasi lalu lintas cukup panik, sehingga ketika saya sampai di pertigaan Maguwo, kompleks bandara Adisucipto, saya diserempet oleh sebuah motor. Saya jatuh, dan penyerempet saya terjatuh. Saya tidak apa-apa walau hanya lecet-lecet ringan, tetapi yang menyerempet saya kondisinya cukup parah. Saya sampai shock melihat darah mengucur dari kepala korban.
Polisi yang ada di sana segera mengatasi situasi. Alhamdulillah korban masih hidup, tetapi tulang bahu sebelah kanannya patah. Oleh polisi dan bantuan warga sekitar, korban diangkut ke dalam pick-up yang dihentikan di tengah jalan untuk kemudian diangkut ke RS Bethesda. Saya ikut naik ke pick-up dan motor saya dan korban ditinggalkan di TKP. Tidak ada yang mendampingi korban, hanya saya. Polisi yang saya mintai tolong menolak ikut dengan alasan hendak mengamankan TKP. Ya sudah, hanya saya, korban, dan sopir pick-up saja yang menuju RS.
Saya sangat terkejut ketika melintasi Jalan Adisucipto, Plaza Ambarukmo yang baru dibuka beberapa bulan yang lalu rusak. Kaca-kaca pecah dan sebagian temboknya roboh. Situasi yang sama menimpa Saphir Square. Mall baru ini pun kanopinya roboh dan tembok sisi kiri dan kanannya jebol.
Situasi semakin mencekam ketika ada isu tsunami. Mobil kami terjebak dalam arus massa yang panik. Jalanan macet. Banyak warga berlarian sambil menangis dan menjerit. Bunyi klakson yang bersahutan menambah kacau suasana. Beberapa orang sempat naik ke pick-up kami ingin menyelamatkan diri.
Tak berapa lama keadaan sedikit mereda. Polisi menyatakan bahwa tsunami hanyalah isu. Pick-up pun kembali berjalan menuju RS Bethesda.
Sesampai Bethesda, ternyata penuh. Kami pun segera menuju RS Panti Rapih. Keadaan yang sama terjadi di Panti Rapih, full. Akhirnya mobil kami menuju RS Dr. Sardjito. Situasi tegang dan mencekam. Mobil ambulans dengan sirene meraung-raung menambah suasana semakin mencekam.
Sampai di Sardjito, ternyata sangat ramai. Pick-up pun tak bisa masuk ke RS karena sangat penuh. Di sini saya bertemu Cipto, anak Geofisika, dan saya bertanya apakah yang terjadi. Dia menjelaskan bahwa telah terjadi gempa tektonik yang sangat kuat menghantam Jogja. Saya pun baru mengerti setelah mendengar penjelasan darinya.
Karena kondisi darurat, korban kecelakaan ini akhirnya mendapatkan pertolongan pertama di atas pick-up. Selang infus dipasang dan luka-luka diobati. Setelah itu sang dokter pun pergi dan menangani korban lainnya.
Beberapa relawan dari Fakultas Kedokteran UGM yang turun karena letak fakultas ini persis berada di depan RS Sardjito. Kami menunggu cukup lama agar korban bisa masuk ke RS. Dan ketika suasana agak sepi, korban pun baru bisa dimasukkan ke RS. Itu pun hanya menempati koridor rumah sakit.
Di dalam RS, keadaan sangat memprihatinkan. Para korban gempa yang rata-rata orang berusia lanjut, wanita, dan anak-anak bergeletakan di koridor dan selasar rumah sakit. Darah berceceran di mana-mana. Bau darah segar dan obat yang menyengat serta jeritan dan tangisan membuat suasana RS semakin memprihatinkan. Darah berceceran di mana-mana, mirip rumah jagal. Bahkan karena ruangan RS penuh, para korban gempa ini diletakkan di halaman parkir RS. Untung pihak RS cukup sigap, mereka segera menyediakan tenda dan juga tratag untuk menampung para korban.
Saya pun akhirnya ikut membantu para relawan untuk menggotong-gotong korban. Saya sebenernya tidak kuat dan miris ketika melihat kondisi korban seperti itu. Melihat darah saja saya ngeri. Tetapi demi alasan kemanusiaan, saya menguatkan diri. Hati saya seperti teriris melihat banyaknya korban.
Tenaga medis yang sangat terbatas membuat penanganan korban sangat lambat. Para relawan tidak dapat berbuat banyak karena yang memiliki kewenangan mengobati dan menangani korban secara intensif hanyalah dokter. Bahkan kegiatan operasi kecil semacam menjahit luka dilakukan di tempat!
Sarana komunikasi yang terputus benar-benar membuat lumpuh. Untuk menghubungi keluarga korban yang menyerempet saya saja benar-benar susah. Saya menghubungi keluarga saya juga susah. Padahal orang yang menyerempet saya ini berniat untuk pulang karena dikabari bahwa rumahnya roboh. Saya sangat sedih dan prihatin.
Saya benar-benar tersadar bahwa manusia ini tidak memiliki kemampuan apa-apa. Tetapi kenapa seringkali manusia bersikap sombong? Saya bahkan sempat berpikir, kenapa tidak tempat maksiat saja yang dihancurkan? Kenapa rumah-rumah warga yang tak berdosa yang dihancurkan? Pasti ada hikmah di balik semua ini.
Saya terus mencoba menghubungi keluarga dan teman yang bisa dihubungi. Untung seorang teman bisa saya hubungi, dan saya meminta dia untuk datang dan menolong saya. Makasih banget buat Didit yang udah dateng dan membantu saya. Makasih banget!
Alhamdulillah. Akhirnya keluarga orang yang menyerempet saya bisa dihubungi. Setelah datang, urusan kecelakaan ini bisa diselesaikan. Kami menganggap ini semua musibah dan tidak ada yang salah dalam kasus ini. Semua terjadi karena memang kondisinya yang sangat kacau.
Urusan dengan pihak kepolisian pun lancar karena polisi juga memahami kondisi yang terjadi. Padahal saya sudah su’udzon takut nanti akan dipersulit. Alhamdulillah semua lancar dan motor pun bisa diambil.
Setelah motor bisa diambil dan semua urusan kecelakaan sudah beres, saya pun pulang kembali ke Solo. Sebelumnya saya menyempatkan diri menengok kos-kosan. Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa. Anak-anak kosan tidak ada semua. Mungkin pada ngungsi kali ya? Ya sudah, saya pun meninggalkan Jogja yang masih mencekam akibat listrik padam serta raungan sirene yang merebak dari penjuru kota.
Buat temen-temen yang udah menanyakan kondisi saya, saya ucapkan terima kasih. Mohon doanya dan juga bantuan berupa materi dan uang untuk korban gempa ini.
Sampai sekarang, setiap kali makan saya terpikir, makan apa para korban tersebut di pengungsian? Ketika hujan saya terpikir, berteduh di mana mereka? Ketika saya merasa kedinginan, bagaimana mereka mengatasi hawa dingin sedangkan pakaian mereka seadanya? Ketika bercengkrama dengan keluarga, masih lengkapkah keluarga mereka? Masih bisakah kita tersenyum dan bersenang-senang ketika saudara kita sangat membutuhkan bantuan kita?
Ya Allah, berilah mereka ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi semua ini. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari peristiwa ini.
Dan buat temen-temen yang ingin menyalurkan bantuan, silakan hubungi Pokso Bantuan Gempa FMIPA UGM, melalui rekening:
NURSATRIA
BANK MANDIRI CABANG UGM
NO. REK. : 1370004158222
WANY HAPSARI P. ARUM
BANK BNI CABANG UGM
0038245541
Setelah mengirimkan dana harap mengirimkan konfirmasi nama instansi/organisasi ke email dinamic_la@yahoo.com (Lufty). Untuk informasi dapat membuka http://helpjogja.net/ atau dapat menghubungi kami pada nomor telp. 085643099000 (Ikhsan).
Sangat banyak yang memerlukan bantuan, sehingga diperlukan banyak posko untuk membantu para korban. Demikian, besar harapan kami temen-temen dapat membantu kami di sini.
Mari bahu membahu!
May 30th, 2006 at 16:04:59 from using Mozilla Firefox 1.5.0.1 on Windows XP
aku sedih! ya aku bener2 sedih! aku selalu suka kota jogja! kenapa harus jogja siiiiiiiiii…. ?
May 30th, 2006 at 17:50:56 from using Mozilla Firefox 1.0.3 on Windows 98
Turut berduka yang sedalam-dalamnya ya Mas….semoga diberkahi ketabahan dan kekuatan menghadapi cobaan ini
May 30th, 2006 at 20:37:33 from using Opera 8.51 on Windows XP
semoga kita dijadikan kuat
semoga kita dijadikan dekat
semoga kita dijadikan selamat
dengan bencana tuhan menguji kita
(untuk jogja)
June 6th, 2006 at 10:32:38 from using Mozilla Firefox 1.5 on Windows 98
bendera setengah tiang